smpn_2ngrayun@yahoo.co.id
+62 823-3740-9109

PONOROGO KITA

MUSIK TRADISI SMP NEGERI 2 NGRAYUN

MASUK 5 PENYAJI TERBAIK

DALAM FESTIVAL DAN LOMBA SENI SISWA NASIONAL

DI TINGKAT PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2019

DENGAN MENGANGKAT TEMA

RADEN MARTOPURO YAITU PAHLAWAN DARI PONOROGO

PADA MASA PENJAJAHAN BELANDA

 

Oleh : Agus Widodo, S.Pd

 

            Sadumuk bathuk sanyari bumi ditohi pati inilah ungkapan yang amat gagah ,ada saatnya kita bertempur habis-habisan. Biarpun cuma“ sadumuk bathuk dan sanyari bumi”. Kita bela dengan “pecahing dada wutahing ludira“ (pecahnya dada dan tumpahnya darah), kalau perlu nyawa sekalipun dipertaruhkan” ditohipati”. Tetapi bukan tawuran untuk semua masalah. Kata “ dumuk” berarti menyentuh dengan jari adapun “Bathuk” adalah jidat. Bagi orang jawa kepala adalah bagian yang terhormat.“Sanyari” berarti sejengkal.  “ Bumi “ adalah tanah.  jadi“ Sanyari Bumi “ adalah sejengkal tanah. Beberapa contoh perselisihan yang berakibat peperangan akibat urusan “ sedumuk bathuk senyari bumi” yang di bela dengan “ pecahing dada wutahing ludira” yang sampai “ ditohi pati”Misalnya seorang laki-laki isterinya di ganggu laki-laki lain, karena merasa harga dirinya terinjak-injak. Dari kisah inilah terinspirasi menggarap komposisi tembang dengan mengambil tema cerita daerah Ponorogo tepatnya dari daerah Bungkal yaitu Raden Martopuro.

            Dikawasan kecamatan Bungkal Kabupaten Ponorogo, ada seorang tokoh bernama Raden Martopuro. Beliau masih keturunan ( Cucu buyut ) Bupati Ponorogo XIII, yaitu Raden Suradiningrat. Sejak remaja dalam darah Raden Martopuro bergolak rasa benci kepada Belanda yang dinilainya sewenang-wenang terhadap bangsanya. Ketika pecah perang Diponegoro, Raden Martopuro bergabung dengan Gusti Kanjeng Jimat di Pacitan yang diikutinya sejak remaja untuk melawan Belanda.

            Saat perang Diponegoro usai, Raden Martopuro memilih tinggal di Bungkal dan bekerja menjadi pengawas gudang kopi. Saat itu bergolak kembali kebencian Raden Martopuro karena Belanda memonopoli hasil kopi rakyat. Kopi harus dijual kepada Belanda dengan harga sangat murah di bawah pasaran. Rakyat yang tidak tunduk disiksa dengan kejam. Melihat tindakan Belanda, Raden Martopuro member kesempatan rakyat di Bungkal untuk menjual kopinya secara sembunyi-sembunyi ke pasar dengan cara menyamar layaknya orang hamil. Namun Belanda mencium gelagat tersebut. Dan menyiksa rakyat untuk memberitahu siapa yang mengajari mereka.

            Salah seorang wanita kemudian mengaku bahwa mereka diberitahu cara menjual kopi kepasar oleh Raden Ayu Martopuro ( istri Raden Martopuro). Antony Wiliem Viensent, Asisten Residen Belanda di Ponorogo lalu datang ke rumah Raden Martopuro.

Sampai disana bertemulah Tuan Antony Williem dengan Raden Martopuro beserta istrinya

yang sangat cantik menawan. Merasa punya kekuasaan Antony Wiliiem melakukan hal yang kurang ajar yakni mencolek pipi istri Raden Martopuro. Raden Martopuro murka dan langsung memegang hulu keris siap menikam  Antony Wiliem. Namun dicegah oleh mantrinya. Semarah apapun, Tuan Wiliem adalah tamu yang harus dihormati. Tetapi Raden Martopuro tetap menyimpan dendam  yang akan dia bayar dengan nyawanya.Sedumuk bathuk sanyari bumi dibelani tekan pati ( menyentuh kening / symbol kehormatan wanita, melanggar hak Raden Martopuro.

Suatu ketika Tuan Antony Williem mengadakan pesta malam Tahun baru. Di antara undangan datanglah Raden Martopuro. Di Tengah malam itulah Raden Martopuro menghadap pengawal untuk minta ijin bertemu. Setelah berhadap-hadapan ,Raden Martopuro langsung menikam tuan Antony Wiliem dengan keris hingga mati seketika. Raden Martopuro yang terkenal sakti mampu meloloskandiri. Kemudian pihak Belanda membuat sayembara bagi siapa yang bisa menangkap Raden Martopuro akan mendapat harta dan pangkat. Tersebutlah seorang bernama Nurhamdan yang merupakan saudara seperguruan Raden Martopuro , tergiur akan bujukan Belanda. Dengan ilmunya menghilang dia bisa menemukan Raden Martopuro kemudian membujuk Raden Martopuro untuk menyerahkan diri. Dengan alasan bahwa ibu  dan anak istrinya sudah di tawan Belanda. Raden Martopuro awalnya menolak namun karena khawatir keselamatan ibu dan keluarganya maka ia menyerah. Setelah menyerah ternyata Raden Martopuro dijatuhi hukuman gantung. Rakyat di daerah Bungkal bersedih dan mengutuk Nurhamdan .“ saudara satu guru harusnya hidup mati bersama, malah mengkhianati.

Diakhir Cerita Martopuro Lebih baik Mati di tangan sendiri daripada harus di hukum gantung oleh kompeni. Selanjutnya Nurkamdam yang saat itu sedang mendekat untuk memberi nasehat kepada Martopuro..tentang penyesalannya tetapi Martopuro telah menghunus keris siap menikam, tetapi keris itu ditusukkan kepada dadanya sendiri…hingga bersimbah darah.. hal ini diketahui oleh pihak Asisten Residen Belanda, dan Nurkamdanlah yang terdakwa sebagai pembunuh Martopuro..sehingga Nurkamdan mendapat hukuman dari Pemerintah Belanda..Dan mereka berdua dikubur di Bon Rojo sekarang Taman Makam Pahlawan Ponorogo. Namun apa yang terjadi? Ternyata Martopuro masih hidup dan masih kuat berjalan ke arah Ponorogo timur yaitu desa Mangunsuman, namun karena kehabisan darah akhirnya Martopuropun meninggal di perjalanan dan dikebumikan di Palem Gurih Mangunsuman.

Sekilas kisah itu ternyata sangat unik dan menarik dibuat tema  kreatifitas Musik Tradisi dan ditampilkan oleh siswa-siswa SMP N 2 Ngrayun dalam rangka mengikuti Festival dengan menggunakan berbagai alat music tradisi yaitu :

1. Gamelan Slendro yaitu menggambarkan Alat music daerah jawa termasuk Ponorogo

2. Kethuk Kempul gong, angklung sebagai  iringan tari reog Ponorogo

3. Rebana dan Thek Thor sebagai alat music perkusi dari bamboo yaitu  alat music iringan

    gajah-gajahan.

Music tradisi ini  digarap juga menggunakan  Koreo yang sengaja mengharap  para penonton mampu mengapresiasi dan memahami isi dari kandungan music tersebut mulai dari awal hingga endingnya Raden Martopuro gugur.